- Home>
- Review Film >
- Divergent: Film Review

HOLLWOOD semakin gencar memproduksi film dari novel fiksi populer untuk pasar young adult. Setidaknya sudah ada dua judul novel seri bertema action/fantasi yang dijadikan film. Yang pertama adalah Twilight dan yang kedua The Hunger Games. Dua-duanya box office dan menggaet peminat remaja dan dewasa muda. Kini ada film bertema serupa berjudul Divergent.
Merupakan novel bertema fantasi karya Veronica Roth. Untuk pasar Indonesia, novel ini diterjemahkan dan didistribusikan Mizan. Divergent kemudian dibuat oleh studio besar Summit Entertainment dan Lion Gate (yang turut memproduksi dan mendistribusikan The Hunger Games dan sekian banyak film genre horor/thriller).
Divergent disutradarai Neil Burger, yang pernah sukses menggarap film The Illusionist dan Limitless. Aktor dan aktris muda sebagai pemeran utama membuat penonton menemukan sosok heroik baru yang sangat tipikal remaja. Tokoh muda yang bingung, pejuang, dan serba penasaran selalu menjadi tokoh yang memancing simpati pembaca atau penonton. Kalau dalam The Hunger Games ada Katnis Everdeen yang diperankan Jennifer Lawrence. Maka dalam Divergent ada Shailene Woodley. Shailene ini muncul pertama kali dalam film The Descendant tahun 2011. Dalam film yang masuk nominasi Oscars itu ia berperan sebagai putri dari seorang lelaki yang depresi.
Tapi yang membuat saya tertarik menonton film Divergent adalah Kate Winslett. Aktingnya dalam Titanic memang tidak terlupakan, tapi performanya dalam The Readers akan diingat sepanjang masa oleh movielovers. Dalam film itulah Winslett memenangkan Oscar untuk Aktris Utama Terbaik.
Sisanya Divergent dipenuhi dengan konsep pertarungan dan aroma politik yang mirip dengan The Hunger Games. Tapi benarkah semirip itu? Setidaknya Divergent punya ide cerita jauh lebih segar. Meskipun mengingatkan kita pada kelas-kelas di sekolah Hogwart dalam seri Harry Potter. Sementara konsep cerita The Hunger Games juga mirip seperti Battle Royale. Sehingga pada intinya, apa yang kita saksikan adalah apa yang sebenarnya sudah familiar di benak.
Sinopsis
Di masa depan, 150 tahun setelah perang nuklir, tepatnya di Chicago, ada sebuah pembagian komunitas (faksi) untuk mencitakan perdamaian. Peraturan ini diharuskan sebab mereka percaya bahwa jika seseorang memiliki karakter dominan pada sebuah komunitas, maka perpecahan antarumat manusia akan ditimbulkan.
Maka lahirlah lima faksi yang bisa dipilih untuk anak-anak yang sudah genap berusia 16 tahun. Lima faksi itu adalah abnegation atau membenci egoisme, dantless atau membenci pengecut, candor atau membenci kebohongan, amity atau membenci peperangan, dan erudite atau membenci kebodohan.
Beatrice Prior atau Tris, adalah salah satu anak muda yang harus memilih salah satu faksi. Untuk bergabung di faksi tertentu ia harus mengikuti ujian yang berat sebagaimana yang lain. Tris harus lulus inisiasi sebelum akhirnya diterima di komunitas. Sebab jika tak lulus, maka ia akan masuk dalam faksi Factionless. Komunitas suram yang berisi anak-anak muda terbuang dan tak punya masa depan.
Tris awalnya masuk ke dalam abnegation sebagaimana pilihan orangtuanya. Tapi ia selalu merasa memiliki sifat egois sehingga merasa tak tepat ada di faksi itu. Akhirnya ia menjalani tes dan ternyata memiliki tiga sifat dominan yang membuatnya berkemungkinan masuk abnegation, dauntless, dan erudite. Inilah yang disebut seorang divergent. Dan dia harus merahasiakan hal itu.
Tris akhirnya memilih faksi dauntles dan untuk masuk ke sana ia menjalani inisiasi yang berat dan gila. Inisiasi itu adalah menjalani pertarungan fisik dan mental, hingga yang terekstrem: meloncat dari kereta layang hingga terjun bebas.
Yang jelas dia tak pernah tahu pada awalnya apa arti divergent hingga para petinggi negara begitu ingin membunuh para divergent termasuk dirinya. Bagaimanakah nasib Tris selanjutnya?
Divergent, Film Fantasi Rasa Hunger Games?
Setidaknya dari segi wajah, karakter Tris lumayan memiliki kemiripan dengan Katniss. Sama-sama berambut kemerahan, tampang innocent, dan juga bertubuh sintal. Bongsor untuk remaja berusia 16-17 tahunan. Namun Divergent lebih punya kesan natural tanpa membahas unsur dunia hiburan seperti halnya Hunger Games. Sangat menyenangkan tidak ada orang-orang berpakaian aneh ala Lady Gaga. Namun demikian semua hal ini malah membuat Divergent jadi biasa. Tak ubahnya seperti tipikal film aksi kebanyakan.
Paruh pertama scene demi scene Divergent bergerak dinamis dan mengesankan. Namun di pertengahan, sebagian penonton sepertinya mulai gusar karena dipenuhi drama. Semata untuk menjelaskan konflik dan konspirasi para petinggi negara. Untungnya penampilan Kate Winslet sebagai Jeanine Mathews, pemimpin Erudite yang antagonis, membuat film ini tak membosankan. Dan seperti kebanyakan film aksi lainnya, beberapa menit terakhir dipenuhi adegan laga yang cukup memancing adrenalin.
Siap dengan Sekuelnya
Proyek pembuatan Divergent sudah dimulai sejak 2011. Pada 2012, casting dilakukan dan shooting berlangsung pada pertengahan 2013. Pihak Summit Entertainment juga sudah bersiap membuat sekuel berjudul Insurgent yang rencananya akan dirilis 20 Maret 2015. Sementara triloginya berjudul Allegiant akan dirilis 2016.
Namun saya tidak menaruh antusiasme cukup besar pada film ini. Mungkin karena saya lebih menyukai film dengan genre yang lebih 'keras'. Divergent, sebagaimana Twilight atau The Hunger Games, dibuat dengan lembut dan aman. Sebab penonton tayangan mainstream pastinya tidak akan begitu menyukai kekerasan eksplisit. Film sejenis ini dibuat dengan porsi yang cocok ditonton pasangan muda atau sekelompok remaja. Untuk itulah kenapa Kick Ass 2 'jeblok' di pasaran. Semata karena dinilai terlalu sadis dan dipenuhi kata-kata sarkastik. Ini menunjukkan kalau selera menonton masyarakat Amerika dan bahkan dunia, adalah sama. Lebih menikmati tayangan yang aman bahkan jika itu bergenre action.
*
0 Komentar
Posting Komentar