13 Oktober 2013
SEORANG teman yang lagi-lagi tidak perlu disebutkan namanya curhat via chat bahwa ia adalah penulis skenario FTV anu yang akan tayang di stasiun TV anu. Reaksi pertama saya tentulah senang dan bangga. Temen gue jadi penulis skenario? Itu keren banget! Tapi apa yang terjadi setelah ia menceritakan honor yang diterimanya? Yeah, ia menyebut nominalnya tanpa sungkan-sungkan. Dia bilang “gue cuma dapat 500 ribu?” Hah? Bukankah penulis skenario setahu saya bisa dibayar sampai berjuta-juta? Dia bilang itu harga yang dikatakan wajar oleh sang penyuruh.
Sang penyuruh? Maksudnya? Itu lho, penulis skenario kawakan bin yang punya jam terbang tinggi. Oh, saya pun menepuk pantat kucing saya. Jadi ceritanya outsourching, nih? Yang bahasa kerennya freelancer? Yang kata lainnya pekerja upah? Yang kata lainnya buruh tulis? :D Dia mengiyakan. Setahu saya penulis skenario memang freelancer. Tapi saya menduga mereka kerja sendiri alias tak butuh asisten. Singkat cerita saya pun paham kronologis cerita yang semalam tadi ia dengungkan. :o
Penggagas Ide yang Dibayar Murah
Facebook jadi jembatan para penulis muda untuk mengoptimalkan bakat mereka. Suatu hari ada sosok A yang mengaku sebagai penulis skenario yang sudah malang melintang di dunia persinetronan baik dalam FTV maupun drama seri yang konon sampai ribuan kali ia buat (sepertinya yang ini cuma majas). Dia membuka kesempatan buat para penulis untuk membuat alur cerita/sinopsis/ide cerita sinetron/FTV. Forum grup facebook pun ia buat dengan konon banyak yang menaruh minat.
Singkat kata, ternyata sosok A ini mengambil ide cerita dari penulis-penulis amatiran yang dianggapnya bagus. Dia juga memberikan pendidikan gratis bagaimana sebuah skenario harus dibuat. Mulai dari segi teknis sampai pembuatan scene (kalau dalam karya sastra disebut sekuen).
Karena dia membutuhkan IDE CERITA, maka dia lebih mendidik ke arah bagaimana sebuah SINOPSIS sinetron dibuat. Sinopsis sinetron jelas berbeda dengan sinopsis novel atau cerpen. Sebab semuanya harus dibayangkan sebagai adegan. Yap! Kalau karya sastra membutuhkan banyak sekali teks untuk menjelaskan keadaan hati, gestur, dan sebagainya. Otomatis seorang penulis IDE CERITA harus bisa membayangkan bagaimana sebuah scene dibuat. Dan juga yang paling penting, memperhatikan WAKTU/durasi.
IDE cerita teman saya pun akhirnya terpilih. Selanjutnya ide cerita itu dibuat menjadi Skenario utuh oleh sosok A. Artinya pekerjaan si A tentu jauh ‘lebih berat’ dari keterlihatan luar. Tapi benarkah demikian? Ide cerita adalah otak dari sebuah cerita. Tanpa ide cerita, deretan scene dalam naskah skenario tidak akan bisa bagus. A juga menjelaskan bahwa pekerjaan memang layak dihargai jauh lebih besar. Sebabnya?
“Ide ceritamu hanya sekian lembar. Bandingkan dengan skrip skenario yang bisa sampai 80 lembar!”
Wajar? Bisa dikatakan demikian. Tapi teman saya bilang kalau penghasilan penulis skenario bisa mencapai 8 juta per skrip! Wow, MENGGIURKAN SEKALI! Itu pun katanya harga ‘lama’, saat pertengahan era 2000-an. Makin ke sini, satu skrip FTV bisa dihargai 4 - 5 juta saja. Nah, jika si A dihargai 5 juta, dan si penulis ide cerita ini dihargai 500 ribu. Tebak sendiri betapa adilnya sang penulis skenario kawakan ini.
Meski demikian, untuk mengawali karier di dunia penulisan, memang harus
berawal dari level bawah. Siapa tahu makin banyak ide cerita teman saya
yang dipakai dan kelak akan jadi penulis skenario kenamaan. Amin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 Komentar:
Setengahnya pun tak sampai, Mas.... Harusnya minimal 1 juta, atau 1,5 juta, udah lumayan...
Posting Komentar