20 September 2013
SIAPAPUN penulis pasti punya angan-angan
karyanya akan diterbitkan ke dalam sebuah buku, melalui bantuan penerbit
mayor. Tapi tak dinyana (sampai sekarang saya gak tahu arti kata nyana
itu apa) jalan menuju penerbitan bukan hal yang mudah. Perlu ketekunan
perlu bla bla bla. Dan setiap kali saya melihat buku-buku baru
bermunculan, saya menaruh cemburu dan bertanya sama diri sendiri, "kapan
nih buku gue terbit?" Sementara usaha yang saya lakukan mungkin serba
parsial. Nah lho!
Dunia penerbitan
adalah dunia industri, yang dimuat tentunya yang punya daya pikat bla
bla bla. Intinya pada akhirnya karya saya masuk ke dalam buku antologi
tentang pertolongan terhadap kucing. Kenapa ini begitu membahagiakan?
Karena saya pecinta kucing yang mengirimkan naskah tentang pengalaman
saya jatuh cinta pada kucing saat saya kecil. Naskah berjudul Kucing
Pertamaku itu mungkin bisa dengan mudah disebelahmatakan pembaca yang
punya standar bacaan tinggi. Karena saya tipikal penulis yang kurang
bisa berkata-kata puitis dan membuai. :P Intinya bagai cerita Chicken
Soup, karya saya itu masuk ke dalam 35 tulisan yang akan diterbitkan
Gramedia. Pihak editor juga akan memilih lima terbaik, dan alhamdulillah
karya saya masuk ke dalam lima itu. :D


foto: capture www.wanasedaju.blogspot.com
Buku
ini mungkin akan terbaca seperti layaknya seri Chicken Soup, dan saya
merasa nggak sabar untuk membelinya kalau buku ini sudah terbit. Lho,
kok beli sendiri? Nggak dikasih apa? Hmm, pengalaman diterbitin untuk
masuk naskah antologi memang bukan buat pertama kalinya buat saya. Tahun
2011 kemarin sempat masuk buku antologi ala memoar yang mengisakan
tentang kisah-kasih ibunda. Setiap penulis yang karyanya masuk
dijanjikan akan mendapat tiga eksplempar buku. Tapi setahun berlalu dan
saya nggak dapat itu buku. Buku akhirnya sampai ke rumah asli saya di
Bogor dan itupun cuma satu. Setidaknya hal itu mengharukan ibu saya.
Bagi beliau mungkin hal itu membanggakannya. Bagaimana saya membicarakan
dirinya, tapi saya juga merasa miris sendiri karena cuma sampai di situ
saya bisa nerbitin buku. Nggak ada honornya, hadiahnya pun telat
dikirim. Seakan-akan penerbit kurang bisa memberi apresiasi sama
penulis. Katanya hasil royalti buku itu akan disumbangkan, dan itu sama
sekali nggak jadi soal kemudian. Karena yang penting berkarya. Karya
selesai seperti .. 'ya sudah'. Mereka menang, saya kalah, coba lagi.
begitu simpel.
Selain buku tadi dan buku kucing, saya juga masuk ke dalam buku antologi yang dibuat Kompasiana. Katanya ada beberapa buku yang akan diterbitkan Kompasiana dan satu naskah saya akhirnya terpilih. Pada awalnya saya ingin mengirimkan lebih banyak naskah, mengingat ternyata ada kompasianer yang naskahnya diterima sampai empat naskah berbeda. Sementara saya cuma satu dari sekira tiga naskah yang dikirim. Aduh, syukuri aja napa! Hahah!

Selain buku tadi dan buku kucing, saya juga masuk ke dalam buku antologi yang dibuat Kompasiana. Katanya ada beberapa buku yang akan diterbitkan Kompasiana dan satu naskah saya akhirnya terpilih. Pada awalnya saya ingin mengirimkan lebih banyak naskah, mengingat ternyata ada kompasianer yang naskahnya diterima sampai empat naskah berbeda. Sementara saya cuma satu dari sekira tiga naskah yang dikirim. Aduh, syukuri aja napa! Hahah!

foto: kompasiana.com
Yang
jelas ada kebanggaan sendiri tentu, dan ini bukan perkara seberapa
nominal yang saya dapatkan -dan semoga bisa masuk rekening saya tepat
waktu buat traktir keponakan-keponakan nonton di 21 dan makan. Selama
hayat masih dikandung badan dan kita semua masih punya kesempatan,
menulis akan lebih membuat kita menjadi hidup. Tak seberapa penting
naskah yang ditolak, usaha terus, kirimkan dan sejena lupakan, dan
jangan terlalu berharap banyak serta banyak berdoa. Begitu sederhana.
Kalau memang masih belum dikasih kesempatan, udah nasibnya begitu kali
ya (HAH? :D)
NB:
Terpilihnya naskah buku kucing meong tidak lepas dari bantuan Andreas
Erick dan Eros Rosita. Makasih ya,buat kalian berdua :)

