- Home>
- Review Film >
- Review - Air Terjun Pengantin Phucket
8 Februari 2013
Yeah, kecuali kalau Anda sejenis anak-anak labil yang gampang diseret-seret. Tapi saya sebagai MARE (mahasiswa kere) berani berkata, “KEMBALIKAN UANG 25 ribuku!” Halah, salah sendiri kenapa enggak ngikutin feeling!
PLOT
Tiara (Tamara B) yang masih trauma akan kejadian tiga tahun yang lampau dimana pacar dan teman-temannya tewas oleh seorang psikopat penganut sekte tertentu, akhirnya liburan di Thailand. Dia bertemu dengan Lea (Laras Monca) yang menetap di Thai dan sudah lama membuka bar. Tiara juga bertemu sahabat masa kuliahnya Alan (Darius Synatria) yang masih menyimpan rasa cinta pada Tiara.
Agar lebih rame, Alan ngajak keponakannya yang kece-kece kayak Maureen (Kimberly Ryder), Kenny (Stephan William) dan Aida (Putri Una). Lea pun mengajak semuanya liburan di Pulau Phucket, di sanalah mimpi buruknya dimulai. Seperti formula klise, Tiara menang, teman-temannya tewas mengerikan, dan sang psikopat tak benar-benar mati. -_-
TAMARA TAK TAMPIL SEKSI
Jika Anda-Anda yang pada haus ini berharap Tamara tampil seksi berbikini bahkan beradegan “hot” seperti film pertamanya, kayaknya Anda wajib gigit sendal. Tamara tidak melakukan hal itu. Dia malah berusaha mengeksplorasi kemampuan bela dirinya. Itu pun harus diperkacau dengan editing yang super memusingkan. Dan tata kamera yang super moving dan “gak bisa diam”. Sehingga kita tidak bisa melihat aksi bela dirinya secara utuh.
Yang lebih menggelikan adalah, make up Tamara yang sangat mulus sehingga membuatnya tampil jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Padahal akan jauh lebih artistik jika perempuan matang secara fisik, diperlihatkan. Tamara akhirnya jadi bintang kecantikan dan itu harus. Bahkan melebihi Kimberley yang tentu jauh lebih muda dan lebih fresh.
Tapi sebagai gantinya dan demi konsep “cuci mata” ala film-film kacrut, kita masih disuguhi cewek-cewek berbikini yang bikin mata jadi kayak gini 0_0 Mungkin sebagai efek lihat 0_0
DEPARTEMEN AKTING
Lantaran miskin di segi plot dan dialog yang dangkal bin klise, para aktor pun bermain tanggung. Saya tidak pernah suka akting Darius, tapi memang seorang pengagum Tamara yang sexy mommy sejak dulu. Tamara seperti biasanya kelihatan berusaha tampil fotogenik. Meski di bagian akting thai boxing fight, ekspresinya tangguh, Sisanya mengupayakan kengerian yang serba berlebihan. Kita sebagai penonton, hanya akan melihat kepasrahan tanpa perjuangan melawan dan celah kemungkinan hidup. Sangat jauh berbeda dengan tipikal slasher Hollywood yang serba mungkin dan serba tak mungkin.
Yang lebih parah adalah akting Edward yang sangat terlihat kurang natural. Stephan William sebagai sosok pemancing ABEGEH labil pun seakan bermain menjadi dirinya. Namun masih mending karena dia terlihat santai. Keberadaan Ray Sahetapy pun lumayan bikin film ini punya nilai prestige sendiri. Sayang, aktingnya tak lebih baik karena skrip yang bodoh.
RIZAL SANG SUTRADARA KADANG KOPLAK KADANG BENER
Sama kayak demam filmmaker dikejar deadline, karya Rizal kadang spekta dan lebih banyak yang kurang spekta. Dia dihargai dalam 5 Cm, trilogi Kuntilanak, atau Jatuh Cinta Lagi. Meski demikian, dia lebih punya cita rasa ketimbang Nayato. Eh kemana tu orang yah? Hhh … Dan pasti lebih baik dari film-filmnya Shanker.
———–
Air Terjun Pengantin Phucket adalah sekuel dari Air Terjun Pengantin yang rilis tahun 2009. Sayangnya tak ada perubahan mencolok selain latar ke Thailand dan pergantian pemain yang tak kalah kece. Meski demikian kemasan sampulnya lumayan menggoda iman dan mencitrakan kalau film ini memang bagus.
PLOT
Tiara (Tamara B) yang masih trauma akan kejadian tiga tahun yang lampau dimana pacar dan teman-temannya tewas oleh seorang psikopat penganut sekte tertentu, akhirnya liburan di Thailand. Dia bertemu dengan Lea (Laras Monca) yang menetap di Thai dan sudah lama membuka bar. Tiara juga bertemu sahabat masa kuliahnya Alan (Darius Synatria) yang masih menyimpan rasa cinta pada Tiara.
Agar lebih rame, Alan ngajak keponakannya yang kece-kece kayak Maureen (Kimberly Ryder), Kenny (Stephan William) dan Aida (Putri Una). Lea pun mengajak semuanya liburan di Pulau Phucket, di sanalah mimpi buruknya dimulai. Seperti formula klise, Tiara menang, teman-temannya tewas mengerikan, dan sang psikopat tak benar-benar mati. -_-
TAMARA TAK TAMPIL SEKSI
Jika Anda-Anda yang pada haus ini berharap Tamara tampil seksi berbikini bahkan beradegan “hot” seperti film pertamanya, kayaknya Anda wajib gigit sendal. Tamara tidak melakukan hal itu. Dia malah berusaha mengeksplorasi kemampuan bela dirinya. Itu pun harus diperkacau dengan editing yang super memusingkan. Dan tata kamera yang super moving dan “gak bisa diam”. Sehingga kita tidak bisa melihat aksi bela dirinya secara utuh.
Yang lebih menggelikan adalah, make up Tamara yang sangat mulus sehingga membuatnya tampil jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Padahal akan jauh lebih artistik jika perempuan matang secara fisik, diperlihatkan. Tamara akhirnya jadi bintang kecantikan dan itu harus. Bahkan melebihi Kimberley yang tentu jauh lebih muda dan lebih fresh.
Tapi sebagai gantinya dan demi konsep “cuci mata” ala film-film kacrut, kita masih disuguhi cewek-cewek berbikini yang bikin mata jadi kayak gini 0_0 Mungkin sebagai efek lihat 0_0
DEPARTEMEN AKTING
Lantaran miskin di segi plot dan dialog yang dangkal bin klise, para aktor pun bermain tanggung. Saya tidak pernah suka akting Darius, tapi memang seorang pengagum Tamara yang sexy mommy sejak dulu. Tamara seperti biasanya kelihatan berusaha tampil fotogenik. Meski di bagian akting thai boxing fight, ekspresinya tangguh, Sisanya mengupayakan kengerian yang serba berlebihan. Kita sebagai penonton, hanya akan melihat kepasrahan tanpa perjuangan melawan dan celah kemungkinan hidup. Sangat jauh berbeda dengan tipikal slasher Hollywood yang serba mungkin dan serba tak mungkin.
Yang lebih parah adalah akting Edward yang sangat terlihat kurang natural. Stephan William sebagai sosok pemancing ABEGEH labil pun seakan bermain menjadi dirinya. Namun masih mending karena dia terlihat santai. Keberadaan Ray Sahetapy pun lumayan bikin film ini punya nilai prestige sendiri. Sayang, aktingnya tak lebih baik karena skrip yang bodoh.
RIZAL SANG SUTRADARA KADANG KOPLAK KADANG BENER
Sama kayak demam filmmaker dikejar deadline, karya Rizal kadang spekta dan lebih banyak yang kurang spekta. Dia dihargai dalam 5 Cm, trilogi Kuntilanak, atau Jatuh Cinta Lagi. Meski demikian, dia lebih punya cita rasa ketimbang Nayato. Eh kemana tu orang yah? Hhh … Dan pasti lebih baik dari film-filmnya Shanker.
———–
Air Terjun Pengantin Phucket adalah sekuel dari Air Terjun Pengantin yang rilis tahun 2009. Sayangnya tak ada perubahan mencolok selain latar ke Thailand dan pergantian pemain yang tak kalah kece. Meski demikian kemasan sampulnya lumayan menggoda iman dan mencitrakan kalau film ini memang bagus.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Komentar
Posting Komentar