- Home>
- Review Film >
- Sanubari Jakarta: Gambaran Satir Kaum Minoritas
12 April 2012
Sudah dua artikel tentang film ini yang saya buat. Dan artikel trilogi inilah yang mengusaikan semua rasa penasaran terhadap film ombinus GLBT tersebut. Paling tidak inilah alasan tepat meng-unfollow @sanubarijakarta yang selama beberapa hari menyampah di TL saya dengan banyak retweet yang gila-gilaan demi promosi dunia maya.
Sebelumnya mohon maaf atas kekeliruan judul per film pendek karena saya tidak menyaksikan credit title di akhir.
Plot dan Kritik
1.1/2
Tema: Gay, sureal
Sutradara: Tika Pramesti
Film ini memang tepat dijadikan sebagai film pembuka karena memiliki kadar estetika yang bagus. Editing, musik, sinematografi juga akting, berpadupadan menjadi sebuah short movie yang lumayan sempurna. Sayang konsep cerita ini kurang dimengerti kalangan awam. Namun sepenangkap saya, film ini mengisahkan tentang hasrat seorang lelaki yang mencintai lelaki lain. Abi membuat dunia baru yaitu menciptakan kepribadian keduanya yang berwujud perempuan bernama Ana. Keduanya melakukan hubungan yang sama dengan lelaki bernama Biyan. Sayang, perlakuan Biyan kepada Abi dan Ana berbeda. Biyan yang heteroseks tentu 'haus' pada Ana ketimbang pada Abi. Sampai kita sadar bahwa apa yang dilakukannya hanyalah ilusi.
Score: 8/10
2. Malam Ini aku Cantik
Tema: Transgender, prostitusi
Sutradara: Dinda Kanya Dewi.
Film berdasar cerita pendek ini mengisahkan lelaki bertubuh tambun dan sangar bernama Agus yang bekerja sebagai waria. Dia melakukan hal itu untuk membiayai istri dan anaknya di kampung. Dan pada malam itu dia menunggu pelanggan namun tak ada satupun yang memakainya. Maklum, yang 'kita dapati' adalah waria yang tidak langsing. Hingga akhirnya dia mendapatkan pelanggan setelah berdoa. Selanjutnya kita akan digiring ke sebuah scene 'malu-malu kucing' lengkap dengan adegan love scene yang annoying. Yah, saya pula tidak berharap film ini akan sefrontal film-film luar dalam mengeksplorasi adegan 'sejenis'. Tapi tentu film ini masih berbau timur dan tidak akan sedikit nakal seperti beberapa scene dalam Kala (2007) atau Mereka Bilang Saya Monyet! (2008).
Malam Ini Aku Cantik tidak mewakili suara transgender, melainkan kondisi seorang kepala keluarga yang malah berganti profesi jadi waria. Entah apa yang melatarbelakanginya, tapi keinginan menjadi dan berperasaan seperti perempuan tidak dijelaskan di sini.
Score: 7/10
3.Lumba-Lumba
Tema: lesbian, biseksual
Sutradara: Lola Amaria
Warna cerah kembali bikin mata saya segar. Terutama penampilan para aktrisnya yang good looking -meski tidak di jajaran para aktor. Lumba-lumba konon binatang yang menyukai sesama jenis, hal ini menjadi 'penanda' seorang guru TK dalam menunjukkan identitasnya. Seorang ibu dari murid yang diajarkan Adinda pun tertarik. Dia pun berkenalan dan saling tertarik satu sama lain.
Film ini sangat sopan dan estetis untuk ukuran timur. Namun gestur-gestur ketertarikan sesama jenis itu digambarkan lewat scene per detik yang mewakili perasaan para tokoh. Sayang, endingnya kurang nendang manakala tidak ada si kepala botak (pemeran suami sang perempuan biseksual) di hotel yang ditempati seorang pria macho yang sedang menunggu seseorang.
Score: 8/10
4. Terhubung
Tema: Lesbian, patriarki
Sutradara: Alfrits
Di satu sisi, seorang lesbian tinggal di kos-kosan berteman lelaki ngondek. Di sisi lain ada pula lesbian lain yang dipaksa kawin dan berada di bawah bayang-bayang otoritas suami. Keduanya bertemu saat cari beha bareng. Saya lumayan muak dengan akting si lelaki ngondek yang sangat tidak natural itu. Begitupula tema bernuansa patriarki dalam rumah tangga yang terlihat dipaksakan.
Score: 6/10
5.Gagal Bercinta
Tema: gay, biseksual
Sutradara: Aline Jusria
Sepasang gay hendak melepas rindu dalam sebuah kos-kosan ala mahasiswa dari kalangan menengah. Yang 'pria' adalah seorang mahasiswa tingkat akhir sementara yang 'perempuan' lebih kaya dan yang punya ego lebih tinggi. Sayang, setiap kali hendak melakukan hubungan intim, ada saja yang membatalkan rencana mereka, seperti atap bocor atau ada yang mengetuk pintu. Namun dialog dalam film ini lumayan bikin ngakak dan segar. Namun film ini cukup menggambarkan hubungan pasangan gay di ibu kota. Meskipun akan makin menarik jika pemilihan casting 'dipermulus' dengan para aktor rupawan atau adegan love scene yang tidak malu-malu.
Score: 7/10
6. Pembalut
Tema: Lesbian
Sutradara: Billy Christian
Seorang lesbian yang berada di posisi 'lelaki' harus ikhlas manakala 'ceweknya' harus kawin denga lelaki. Namun keduanya terlibat salah paham saat seorang mantan masuk ke dalam kamar plat dan memperunyam masalah. Film ini dibuka dengan adegan love scene yang sekali lagi serba nanggung. Entah emang formatnya begono karena skrip atau akting yang tidak total, atau karena disensor LSF. Tapi aneh juga karena film ini hanya dibintangi dua orang, dengan satu orang aktris yang memerankan tiga peran yang berbeda. Penasaran? Sok lah tonton. Yang jelas akting aktris yang memerankan lesbian di posisi 'lelaki' lumayan, lah. Sementara pelafalan sunda sang selingkuhan, tidak seluwes seorang tokoh perempuan dari Sunda seperti dalam Pulau Hantu 3 (nah, ketauan si Saman ternyata pernah nonton horor ecek-ecek. :p Itu juga di dipidi campuran nemu di rumah, Om .. Y+Y)
Score: 6,5/10
7. Menunggu Warna
Tema: Gay, sureal
Sutradara: Waskito Dewo
Seorang pekerja projek bangunan, Satrio bersinggungan dengan seorang pemuda bernama Adam sepulang kerja. Satrio pun mengendarai sepeda motor dan terhenti di lampu merah. Sementara di ujung sana, Adam tampak sedang berdiri menunggu sesuatu (mungkin nunggu angkot atau nunggu ada yang nawar ;o) Well, Satrio pun akhirnya mengajak Adam, tinggal satu atap, memadu kasih, resign, sampai ke luar kota. Sampai akhirnya mereka tiba di lampu merah dan kita akan kembali menyaksikan scene awal. ketika Satrio menunggu perubahan warna dari merah ke hijau di lampu merah.
Film hitam putih ini tidak berdialog, tapi bukan berarti film bisu. Dua tokoh lelakinya berperan dengan ekspresi, gestur, juga senyuman. Didikung tata sinematografi yang bagus, film ini menjadi film paling romantis tanpa scene-scene yang 'menjijikkan' seperti adegan ranjang atau sejenisnya. Film ini juga menyindir FPI yang pernah membuarkan Q Film Festival di Jakarta, yang merupakan festival film bertema gay.
Score: 8.5/10
8. Surat untuk A
Tema: Transgender
Sutradara: Fira Sofiana.
Full narasi, hanya dialog hitungan detik yang merupakan bayang-bayang tokoh utama. Ini adalah kisah mengenai seorang perempuan bernama Ari yang berubah kelamin menjadi laki-laki. Di masa sekolah, dia ingin mengirimkan surat pada teman perempuan yang dicintainya. Namun surat itu tak pernah diberikan sampai dia beranjak tua. Akhirnya dia mengetik melalui mesin ketik dan mencurahkan pengalaman pribadinya. Amplop surat itu ditulisnya dengan: 'surat untuk A' . Siapakah A? Apakah Aa Saman?
Ternyata surat itu malah ditujukan untuk dirinya. Karena A adalah Ari. Jadi dia tetap menyembunyikan cinta lamanya. Film ini cenderung membosankan dan membuat penonton gerak-gerak bosen. Pasti menyenangkan jika pemilihan pemain dipertepat dan disediakan ruang montage lebih banyak seperti gambaran masa lalu yang pekat. Katalankal scene operasi kelamin misalnya?
Score: 6/10
9. Topeng Srikandi
Tema: Patriarki, feminis
Sutradara: Kirana Larasati
Ini adalah film paling 'apa-apaan' dalam omnibus Jakarta Sanubari. Apalagi kehadiran Deddy Corbuzer yang malah membuat film mendadak tidak prestisius. Film dibuka ala Wajang Koelit dalam Hi5teria, mengisahkan dendam seorang pegawai yang dulu dipecat di sebuah perusahaan karena sempat dilecehkan. Perempuan ini menyamar menjadi lelaki dan entah gimana caranya, keterima di perusahaan yang sama. Setelah cukup puas dengan penyamarannya, dia membuka identitas dirinya saat rapat usai. Dengan dramatis dia mengucap ala pemain teater di Taman Budaya. Tidak ada bunyi reaksi normal dari lelaki hidung belang dalam ruangan. Jelas film ini sangat konvensional demi mendukung tema feminisme.
Score: 5/10
10. Kotak Cokelat
Tema: Transgender
Sutradara: SimF
Pantes aja ditayangin di akhir, sebab film ini memang gemilang sekali. Awal yang dibawakan natural, sampai twist/ending yang menarik. Film ini bercerita mengenai seorang perempuan bernama Mia yang seorang desainer dan yang juga menjalin kasih dengan seorang lelaki bernama Reuben. Namun sebuah kotak cokelat mengingatkan si lelaki pada masa lalu. Yeah, ternyata si perempuan adalah teman masa kecilnya yang selalu diperolok teman-teman sekompleks dengan sebutan: bencong! bencong! Film ini bener-bener so sweet. Tata sinematografi dan editing pun berbau alur video musik, maklum dibuat sutradara video musik: Sim F. Meski adegan kiss-kiss di endingnya malah diakalin jadi kagak keliatan. Maklum, Indonesia..
Score: 8,5/10
*
SANUBARI Jakarta cukup menggambarkan kehidupan kalangan 'abnormal' kepada masyarakat -hanya- penonton film bioskop. Sayang memang, barangkali karena keterbatasan dana promosi, film ini hanya masuk di satu bioskop 21 dan di blitz di kota saya. Bahkan di kota lain, film ini tidak tayang. Tapi buat yang belum punya kesempatan menonton, tunggu saja versi VCD-nya.
Yang perlu diketahui, film ini memakan waktu setahun mulai dari tahap naskah sampai pengambilan gambar. Naskah pun dibuat oleh Lele Leila yang umurnya masih 21 tahun! OMG! Anak semuda itu bisa bikin cerita dewasa? Dan asal tahu juga kalau enggak ada satu pun dari para pemain yang menerima honor, alias rela ga dibayar. Ini karena film ini memang indie dan dana yang disediakan Lola dan Fira selaku produser, sangat terbatas. Alasan para pemain ini bergabung, karena apresiasi besar terhadap film. Tapi bukan berarti mereka nggak dapat apa-apa. Konon hasil penjualan tiket akan dibagi rata.
Tapi ... di studio yang saya tempati saja, yang nonton cuma 10 orang. Pihak 21 juga sadar film ini kurang menjual, makanya ditaro di studio 6 yang jumlah kursinya lebih sedikit. Yang jelas saya memberi apresiasi besar untuk film ini. Sanubari Jakarta cukup menggambarkan sisi kehidupan lain di Kota Jakarta, ketika di dalamnya terdapat pelbagai banyak manusia dengan orientasi seks macam-macam.
Score: 8/10
Peringkat film pendek terbaik
1. Menunggu Warna 2. Kotak Cokelat 3. Setengah 4. Lumba-Lumba 5. Malam Ini aku Cantik 6. Gagal Bercinta 7. Pembalut 8.Surat untuk A 9.Terhubung 10. Topeng Srikandi
*
Sumber gambar: boleh.com
Simak review 'profesional' boleh.com di: [Resensi] Sanubari Jakarta : Kompilasi Potret Kehidupan Yang Termarjinalkan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







.jpg)
6 Komentar
Penasaran, tp keknya gak bakal diputar di Kediri nih....
kalo diputer, mo nonton ma Hbib, ah! :D
ada link downloadnya ga ya...?
jd pengen nonton..
:)
ini film bioskop, bung Dihas ... =0= baru tayang ...
penasaran sama kotak cokelat, but yah buat saat ini lagi ngga bsa nonton ekonomi cekak, oia itu foto paling bawah yang naik motor foto sapa? hahaha :D
Sejak kapan wana jadi fansnya Inter?
#liat sprei.
Judulnya Kentang lho, bukan Gagal Bercinta... Hihihi :D
Posting Komentar