• 30 Maret 2012


    TAK ada ekpektasi apapun ketika memutuskan untuk menonton film omnibus genre horor lokal ini. Tidak pula membayangkan akan lebih keren dari Takut atau  Fisfic6 Vol.1. Apalagi menyamai 4bia atau Phobia 2. Ketika menyaksikannya langsung, bukan perasaan takut yang ada, tapi perasaan dileluconi tingkat akut.  Hi5teria lebih mirip hasil karya anak ingusan yang bermodalkan pemain bernama besar. Namun tujuan Upi selaku produser memang mulia, ingin menumbuhsuburkan genre horor omnibus di Indonesia.

    Paling tidak, inilah hal terbaik yang bisa mereka lakukan.


    Plot dan Kritik


    Pasar Setan 

    Sutradara: Adriyanto Dewo/Durasi: 14 Menit/Pemain Tara Basro (Catatan Harian si Boy),
     Dion Wyoko (Serigala Terakhir)


    SARI adalah seorang gadis yang hilang di Gunung Lawu. Selama luntang-lantung dia masuk ke dalam alam bunian/makhluk halus yang dinamakan orang-orang sebagai pasar setan. Dia pun kembali keesokan paginya dalam keadaan siuman, sementara dia terus mencari keberadaan kekasihnya, Jaka. Di sisi lain seorang pendaki gunung lain Zul, juga hilang dari rombongan. Zul bertemu dengan Sari lalu masuk ke dalam pasar setan seorang diri.

    Dan akhirnya kita tahu kalau Sari hanyalah salah satu dari sekian orang yang hilang di Gunung Lawu. Tanpa sadar ia menjadi arwah setelah masuk pasar setan. Begitu pula dengan Zul, yang baru-baru ini menjadi hantu. Karena Sari ternyata dinyatakan hilang pada 1990.

    Tidak seperti yang kita bayangkan, tidak ada penggambaran jelas mengenai pasar setan. Kita hanya disuguhkan nyala lamu samar dan suara kerumunan para lelembut. Pasar setan merupakan mitos yang akrab di telinga pendaki gunung. Sebenarnya para jin itu lebih sering berkomunal di tempat-tempat yang tak terjamah manusia. Saya sendiri pun pernah mengalami meski hanya diperdengarkan secara suara.

    Konsep cerita ini bukanlah hal yang baru karena sudah lebih dulu 'diambil' film Pencarian Terakhir. Pasar Setan diperparah dengan akting yang kaku, dan semua tata teknis yang kasar. Hanya adegan terakhir yang mengejutkan sebagian besar penonton. Namun dengan teknik kemunculan hantu seperti itu, saya sendiri tidaklah terkejut.

    Score: 5/10

    Wajang Koelit
    Sutradara: Chairun Nisa/Durasi: 24 Menit/Pemain: Maya Otos, Sigi Wimala (Tentang Dia)


    FILM ini menawarkan unsur lokal yaitu pertunjukkan wayang kulit di Jawa Tengah. Seorang wisatawan dan jurnalis asing, Nicole, menyaksikan pertunjukkan ini atas arahan seorang lelaki yang berlaku sebagai tur guide. Usai pertunjukkan, Nicole memotret layar wayang kulit lalu menemukan sosok perempuan cantik yang selalu menghindar ketika didekati. Perempuan Jawa itu pun kabur namun tak sengaja menjatuhkan hiasan di sanggulnya.

    Nicole pun mengambil hiasan itu dan mimpi buruk pun dimulai. Entah bagaimana, namun sosok bayangan perempuan terlihat dan membuat Nicole cemas. Sampai akhirnya dia harus menerima nasib sial karena dijadikan 'bahan' sebagai boneka wayang.

    Saya begitu muak dengan aktris bule yang memerankan Nicole. Gesturnya sangat kaku dan ekspresinya tidak natural. Dari segi teknis apalagi. Editing sangat kasar membuat peralihan mimik muka tidak sinkron, ditambah dengan tata artistik dan pencahayaan yang bikin kita tergoda untuk mengambil lampu senter dan menyalakannya. Sayang sekali konsep cerita yang lumayan menarik ini tidak dibarengi dengan presentasi yang baik pula.

    Score: 5/10

    Kotak Musik

    Sutradara: Billy Christian/Durasi: 20 Menit/Pemain: Luna Maya


    SEORANG dosen -entah mengajar di fakultas apa- menerbitkan sebuah buku terkenal yang kalau tidak salah berjudul 'There's No Ghost'. Dia menerangkan di sebuah kelas kalau makhluk halus itu tidak ada, dan hanya tergambar sebagai ilusi dari hal-hal yang ia jelaskan secara empirik. Sebelumnya Farah 'memburu' hantu dengan peralatan elektronik yang lebih mirip adaptor mainan dengan mahasiswannya. Di sana dia bisa melihat setan mamak-mamak gendut yang bikin sebagian penonton bergidik.

    Farah digambarkan sebagai seorang akademik sekaligus perempuan metropolitan yang menganut seks bebas. Dalam suatu scene dia bertanya pada mahasiswanya yang masih tinggal di apartemennya sendiri. "Mau kemana?" tanya Farah. Dan scene pun ujug-ujug beralih pada keduanya saat usai melakukan adegan ranjang. Tentu saja dengan Luna Maya yang masih mengenakan kaus dan Kris Hatta (sebagai Teddy) yang dadanya ditutupi selimut.

    Scene 'malu-malu meong' ini membuat saya ngakak sampai kepengen jilatin lantai bioskop. Dan selebihnya kekonyolan pun diperlihatkan tanpa ampun. Manakala setan anak perempuan itu ngomong dengan amat kaku dan berkata 'main yuk, Kak'. Enggak sampai di situ, ada adegan cupu lainnya berupa si anak setan ini merangkak sambil mundur.

    Meski demikian, akting Luna Maya sangat menonjol di sini. Dia memang salah satu aktris Indonesia yang total bermain peran. Sayang dia mendapat skrip yang tidak matang. Apalagi film ini lumayan 'meniru' film Awakening, mengenai tokoh perempuan muda yang tidak percaya hantu namun akhirnya mengetahui kalau hantu itu benar-benar ada.

    Score: 4/10

    Palasik
    Sutradara: Nicho Yudifar/Durasi: 21 Menit/ Pemain: Imelda Therine, Poppy Sovia

    SEORANG lelaki beristrikan istri muda yang tengah hamil tua. Pernikahan ini tidak disetujui anak kandungnya yang diperankan Poppy Sovia. Ketiganya liburan di sebuah vila angker. Di sana, sang istri yang diperankan Imelda Therine, kerap diganggu sosok misterius, yang belakangan diketahui monster tanpa tubuh yang kemudian dikenal dengan palasik.

    Palasik adalah setan 'dari' Minangkabau. Konon supaya bisa hidup abadi dan kaya raya, dia harus mengeluarkan kepalanya dari tubuh lalu mencari sosok ibu-ibu hamil untuk memakan sang bayi hidup-hidup. 

    Palasik tidak jauh lebih baik dari karya sebelumnya. Bahkan boleh dibilang lebih ancur. Ini membuat saya sebagai penonton duduk resah dan ingin cepat-cepat hengkang karena sudah dileluconi sekian banyak film kelas C. Tidak ada ending yang memuaskan dalam Palasik, twist pun gampang tertebak ketika si anak kandung ternyata istri si palasik. Memutarnya kepala Poppy Sovia sampai 180 derajat pun enggak bikin saya terhenyak. Ditambah penampakan palasik yang sumpah kagak jelas. Sampai ane mikir 'elu buat film serius kagak, sih? Apa ini projek maen-maen?!" Sebuah musibah.

    Yang paling menggelikan, ada dialog yang kelihatan diedit demi update film. Kala Poppy meledek Imelda dengan 'hari gini percaya setan? Tahun 2012 gitu, lho". Nah, di bagian ini suara terdengar mengganggu, seakan-akan dialog aslinya adalah 'tahun 2011 gitu, lho'. Mengingat film ini seperti direncanakan tayang pada 2011 dalam skala bioskop (tayang pertama kali di INAFF 2011). Yeah, saya enggak tahu. Cuma asal nyablak.

    Score: 3/10


    Loket
    Sutradara: Harvan Agustruansyah/Durasi: 18 Menit/ 
    Pemain: Ichi  Nuraini/Bella Esperance (The Perfect House)


    SAKING udah enggak konsentrasi dan kehilangan antusiasme, teks berjudul Loket pun saya baca menjadi Toket. Mata pun melotot namun ternyata ini hanya bagian dari siksaaan di kursi penonton. Seorang petugas parkir di basement bekerja pada malam hari yang sepi. Di sana dia menemukan kejadian aneh karena dihantui seorang perempuan mengerikan.

    Dia pun kemudian melihat gambaran dirinya sendiri yang sedang berdialog dengan seorang lelaki pekerja lain. Penonton pun bingung dan berharap mendapat jawaban. Sampai akhirnya kita tahu kalau si cewek sedang melihat kilas balik perbuatannya dahulu, yang membunuh si perempuan kaya untuk melucuti perhiasan dan uang dari sosok yang dibunuhnya.

    Meski konsep dalam film terakhir ini lebih menonjol dari yang lain, namun presentasinya tetap kelas C ke bawah. Padahal Ichi lumayan dapat membawa peran ini dengan baik. Disusul Bella Esperance yang terlihat sangat jetset namun menjadi psikopatik saat jadi setan. Sayang sekali.

    Score: 6/10


    *


    TENTU saja saya tipikal orang yang mempertimbangkan  waktu dan duit untuk menonton film-film Indonesia. Hanya film lokal yang saya anggap baik yang saya tonton. Jadi saya tidak seperti blogger lainnya yang memang terbiasa menonton film buruk untuk di-review. Sebab kalau mereka punya waktu banyak dan duit ekstra, kenapa enggak? Justru itu hal yang positif dalam mengapresiasi perfilman lokal. Apalagi jika mereka me-review-nya dan memberikan gambaran kepada calon penonton.

    Tapi saya bukanlah mereka. Beberapa review saya buat cenderung gamblang dan membocorkan ending. Namun itulah hal jujur yang bisa saya lakukan. Yang jelas Hi5teria tidak sepenuhnya buruk jika dibandingkan horor kelas Z dengan hanya seks dan komedi berbau banci sebagai bahan jualan. Hi5teria paling tidak sudah membuat saya puas akan kehausan saya menikmati kembali akting Luna Maya, dan aktris muda mantan Gadis Sampul, Tara Basro yang menurut saya potensial.


     Huah ... hari ini adalah Hari Film Nasional. Meski masyarakat internet tidak antusias (terbukti dengan jumlah pembaca artikel saya tentang film berjudul  yang sepi), tapi saya tetap mengucapkan Selamat Hari Film Nasional (entah ngucapin ama sapa) =0=


    Score: 5/10

    foto: databasefilm.blogspot.com

    6 Komentar

    Mutmainnah mengatakan...

    :D

    Miranti Eka mengatakan...

    yah bang, maya otos mah pantesnya ngelawak :D

    Anonim mengatakan...

    Saya suka koq semua review pelem bung saman..apalagi kalo ada bocoran endingnya...

    gita mengatakan...

    yang wayang itu ide ceritanya kayaknya oke.tapi eksekusinya berantakan ya?inget waktu jaman kecil saya nonton film leak.yg main bule jg,waktu itu saya nonton sambil nutup muka pake bantal.heuheu...
    Yah lumayanlah daripada film2 sampah yg cuma berkutat pocong sama kuntilanak doang.padahal hal2 supranatural lokal kan buanyak banget.tapi jarang yg bikin filmnya bagus.apalagi jenglot pantai selatan...ih...

    Unknown mengatakan...

    untung udah baca reviewnya. tadinya kemaren mau nonton tapi galau :D

    Anonim mengatakan...

    penasaran pengen nonton ,,,nunggu dvdrip nya,,,
    wan,Dark Shadows ,,,, -hyding

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan