- Home>
- Film Horor >
- Insidious: Film Kelas B di Tangan Sutradara Kelas A
6 Desember 2011
kisah tentang boneka hidup kepunyaan seorang hantu nenek-nenek pemain boneka.
Di tahun ini, dia menyutrdarai film kelimanya berjudul Insidious. Jujur saja, ketika menyaksikan traillernya, saya tahu film ini akan seperti apa. Tipikal film kelas B dengan tata teknis yang 'terbelakang'. Karena menurut standar saya, cerita sebrilian apapun jika tidak didukung oleh tata teknis yang baik, tidak akan pernah menjadi film yang utuh.
Tapi Insidious nggak seburuk itu, kok. Meski terkesan FTV ala Amerika, tapi film ini memang berhasil membuat saya menyaksikan beberapa scene dengan menutup sebagian muka. Meski belakangan, efek ketakutan saya semakin menuju ending semakin berkurang. Saya bahkan sempat tertawa menyaksikan beberapa scene 'tolol' yang disengaja sebagai bumbu komedi. Selebihnya, tertawa karena film tersebut terlalu klasik sampai efek hantu-nya terlihat sangat manusia (alias, visual efeknya kurang, Cing!). Tapi kita nggak boleh berharap banyak dari film keluaran studio kecil. Jadi saya pun menonton tanpa ekspektasi.
Plot
Sepasang suami istri baru saja pindah ke rumah baru. Mereka punya dua orang anak laki-laki yang masih kecil dan seorang bayi. Sayang, dan tentunya kita pun tahu, kalau rumah yang mereka tempati itu berhantu. Suatu malam, salah seorang anak mereka yang bernama Dalton, jalan-jalan ke loteng. Ketika ingin menyalakan lampu, dia menaiki tangga. Sial, tangga yang dinaikinya rapuh. Dia pun terjatuh dan berteriak.
Semua tampak baik-baik saja sampai Dalton tidak bangun dari tidur dan dinyatakan koma. Sementara Renai, ibunda Dalton mulai diganggu penampakan hantu di rumah, yaitu kemunculan hantu lelaki berpakaian serba hitam. Karena ketakutan, dia menginginkan pindah.
Keesokan harinya mereka pindah rumah. Sementara Dalton masih dalam keadaan koma dan dirawat di rumah dengan infus dan detektor detak jantung. Namun Renai masih juga diganggu hantu-hantu. Mertuanya, Lorraine, pun kemudian datang. Dan dia mengatakan pernah bermimpi menyeramkan tentang rumah ini. Josh sama sekali tak percaya tahayul. Bahkan ketika sebuah penampakan setan hadir di belakang Josh dan disaksikan ibunya.
Karena merasa terganggu, Renai pun mendatangkan paranormal. Tapi paranormal yang akan kita saksikan mirip dengan penangkan hantu ghostbuster dengan alat-alat yang konyol. Seperti kamera pendeteksi hantu, alat pendeteksi suara dan sebagainya. Dua orang lelaki itu pun mencari keberadaan hantu sampai salah satunya 'dapat'. Akhirnya, mereka pun memanggil ketua mereka, Elise.
Elise, adalah seorang cenayang alias dukun. Dia juga berteman dengan ibu Josh. Namun Josh sama sekali nggak ngeh. Elise pun berkeliling rumah dan mendapati setan berwajah menyeramkan, bermuka merah, berkaki kuda. Setelah berinvestigasi ria, dia pun mengataka sesuatu hal.
Ternyata Dalton punya kemampuan astral traveller, atau meraga sukma, atau mampu melepaskan diri dari tubuh. Biasanya terjadi ketika dia tertidur. Sialnya, saat dia menjelajahi dunia roh, dia tidak bisa kembali lagi karena tersesat. Ini membuat banyak roh ingin memasuki tubuh Dalton yang sedang koma. Dan dia sudah menjadi incaran iblis berkaki kuda itu.
Meski awalnya Josh tidak percaya, akhirnya ia meminta pertolongan Elise dan mulai mengadakan kontak dengan dunia gaib. Jangan tanya bagaimana caranya, jika dalam Drag Me to Hell, para dukun menggunakan media kambing atau kartu taroot, maka dalam film ini, kamu akan melihat si dukun mengenakan masker oksigen. Atau entahlah apa itu namanya. Yang jelas benda itu tidak asing lagi di mata saya.
Singkatnya, Elise pun membuka tabir. Kalau sebenarnya Dalton mewarisi bakat sang ayah, Josh. Ternyata saat kecil, Josh juga mengalami hal yang sama, ketika badannya kemana-mana saat bubu. Dan dia sempat diikuti roh nenek-nenek.
Dari sini saja, plot ini udah bikin saya males. Ups, entaran yah, kritiknya. Lanjut!
Kemudian, Josh pun melepaskan rohnya untuk menyelamatkan sang anak. Setelah melalui 'banyak rintangan', akhirnya dia berhasil menyelamatkan anaknya. Sayang, ternyata tubuhnya sudah dimasuki hantu nenek-nenek. Itulah yang menyebabkan dia membunuh Elise. Cerita pun berakhir. Dan saya sangat tidak berharap ada sekuel untuk film ini.
Film Kelas B di Tangan Sutradara Kelas A
Meski banyak kritikus yang memuji film ini, blogger film ikut me-review dengan penilaian positif, serta jutaan orang yang suka, dan menjadi box office, tapi saya tidak suka film ini. Keterbatasan teknis membuat film kurang enak dilihat. Plot yang memang sudah bagus untuk ukuran sebuah horor yang memang harus tidak masuk akal, mendadak menjadi serentetan lelucon.
Perlu diakui kepiawain Wan berada di saat scene-scene mengejutkan yang tidak bisa disangka-sangka. Namun, itu, kan, salah satu aturan yang harus dimiliki film horor (horor, ya. Bukan slasher). Ketika penampakan dengan tiba-tiba muncul dengan hentakan musik yang bikin kita terkejut sampai menerobos atap rumah.
Yah, scoring film ini memang sinting. Namun visual efeknya tidak sesinting yang saya harapkan. Efek grafik komputer yang terlihat jelas hanya ketika monster berkaki kuda itu merayap di luar dinding kamar untuk menyerang Dalton. Sisanya? Make up dan kostum pun dibuat seala kadarnya sehingga hantu-hantu itu lebih mirip orang-orang hidup yang berpesta Halloween.
Dari segi sinematografi, Wan bisa mengatur sedemikian rupa dan memosisikan mana scene yang tepat dengan proses pengambilan gambar dinamis, dan mana scene yang perlu pergerakan kamera yang tenang. Dari departemen artistik, semuanya serba standar. Pun ketika saya masuk scene sarang si iblis berkaki monster. Saya jadi teringat dengan aroma film horor tahun 80-an ala Tales from The Crypt!
Bagaimana dengan monsternya? Aduh, saya bahkan nggak nutup mata lagi di tengah dan menuju ending. Hantu berkaki kudanya memang menyeramkan. Tapi kok, mirip dengan salah satu tokoh dalam animasi Robots, Fender. Yah, itu adalah salah satu film animasi favorit saya, apalagi ada tokoh yang bersangkutan, yang nari dengan iringan musik Baby, One More Time-nya Britney Spears.
Hantu si nenek-neneknya? Aduh, mirip banget sama Belatrix-nya Harry Potter.
Okey. Apapun yang terjadi, fillm ini berhasil menarik audiens di saat film-film horor tahun ini dipenuhi film-film sadis. Keberadaan Insidious menjadi minuman segar untuk orang-orang yang kangen dengan tayangan horor klasik yang nggak jauh-jauh dari tema rumah hantu, anak kecil kemasukan setan, iblis penasaran, dan sebagainya.
Saya ndak mengatakan Wan kurang berhasil dalam film ini. Tapi kalau dia diberikan bujet lebih, bukan berarti Insidious akan semegah Dead Silence atau mungkin Saw. Dan juga penilaian saya berdasar faktor selera. Misalnya saja, ketika orang-orang ketakutan menonton Paranormal Activity, saya mungkin menjadi satu-satunya penonton yang menguap karena bosan. Kita bahkan bisa mendaatkan yang lebih seram dari tayangan tolol di tipi lokal: uji nyali.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


17 Komentar
kamu liat paranormal activity berapa?
Kalo yg pertama memang bikin nguap, tapi sesuatu yang beda aja dgn film2 horor yang biasanya kita tonton.
kalo yang kedua, filmnya berhasil membuatku teriak-teriak tengah malem karena ketakutan. abisnya seseorang yang lagi tidur bareng tengah malam jalan mondar-mandir di depan saya. Nyawa belum pulih, masih keinget filmnya, tentua aja bikin takut. *curcol gak penting*
yang kesatu. nggak diterusin da ga rame
Hmmmm, tapi Paranormal Activity yang satu tuh hantunya nggak keliatan Kang, dan Papan Oija (Oh, Oija!), sekiranya papan itu tidak disentuh dan digunakan. Jangan mengundang iblis masuk. karen sekali jemari jentiknya masuk, lama2 ia akan memasukkan seluruh tubuh.
ga semua blogger film menilak plus film ini. saya sempat ragu ketika mau ngambil film ini karena ada review yang miring soal film ini (lupa blognya yg mana) dan sampai sekarang belum mau beli thu film en akhirnya saya putuskan untuk tidak nonton ini film....hahaha....
belum pernah nonton film horor luar sama sekali. gak berani.
tapi kalau baca ulasannya disini, kayaknya gak serem2 amat ya..
Udah nonton dan endingnya ketebak. soalnya ada adegan yg memutar itu lho, yg bapaknya marah2 sama nenek tua itu (rada kesel disitu, kenapa ga buru2 aja balik ke badannya, pake marah2 segala). tapi menurut saya sih lumayan seru juga ini film. :fufu:
Entah kenapa ketika adegan setan (atau apalah itu) muncul dan merayap di dinding untuk mengejar si Dalton saya merasa agak "janggal" melihat adegannya.
Apa karena tampilan dari si setan sendiri yang kurang baik atau momennya kurang pas, saya juga kurang mengerti.
CMIIW
Agak kurang setuju sama kutipan : "Cerita sebrilian apapun jika tidak didukung oleh tata teknis yang baik, tidak akan menjadi film yang utuh."
Mungkin kalo menjadi film yang utuh memang bisa dibilang tidak. Namun kalo menjadi film yang bagus, sudah pasti bisa.
Karena dasar utama sebuah film sudah pasti adalah plot/ceritanya. Sebagus apapun teknik pembuatannya, kalo ceritanya jelek, film itu akan menjadi jelek. Tapi jika kalo pada dasarnya ceritanya sudah bagus, mau dengan teknis ala kadarnya pun film itu akan jadi bagus.
Itu menurut opini saya :)
aku udah nonton film ini. 3 kali.
pertama kali paling kaget pas hantunya muncul di belakang josh.
terus paling lucu pas adegan pengusiran hantu, alatnya kok agak aneh ya? hehe...
belakangan, pas saya nonton lagi, hantu di belakang josh itu kok kayak orang pakai topeng biasa ya? nggak terlalu seram.
dan hantu favorit, hantu cewek-cewek yang hobi senyum lebar tiba-tiba, haha... :woot:
dan pas saya nonton yang ke tiga kalinya? saya tidur... :-Z
saya setuju sama ellious. tergantung ceritanya juga sih.
btw emang bener, film ini banyak kekurangannya. salah satunya enggak disebutin kenapa si ayahnya itu punya kemampuan astral traveller.
keunggulan film ini menurut saya ada di sound effectnya yang digarap lumayan baik. hingga bisa bikin kita horrible and goosebumps.
dan gue gondok setengah mati setelah liat endingnya kaya begitu..so kamfreeet..
bukannya Upin ipin itu karya anak Indonesia???
berhubung saya tidak menonton filmnya hingga selesai ..
jadi saya belum bisa berpendapat tentang film ini ..
tapi rupaya kakak dan adik saya cukup terkesima ..
:D
haaah gitu ya? padahal saya sempat membaca beberapa artikel dari blog lain yg mengatakan Insidious itu menyeramkan dan bagus :/
btw hantunya kaya hantu tipikal indo ya :o
kaget ngeliatin endingnya. itu si Elise metong gara-gara bapaknya Dalton. Kasian. biikin shock ini film. haha. maklum, gak suka nonton film horror. hehe
Pertamanya serem pas bagian hantu merahnya muncul di belakang Josh. Tapi pas hantunya merayap di tembok kok kayak cicak? (:
Saya sudah nonton Insidious. Menurut saya film ini lumayanlah. Sempat bikin ketakutan juga. Saya suka yang jadi Renai, cantik dan matanya indah banget...
Posting Komentar