• 4 Juni 2011


    KETIKA presentasi perencanaan skripsi di muka kelas, saya tidak canggung mengucapkan kata Memek.  Saya tidak menganggapnya masalah besar karena Memek adalah tokoh dalam cerita pendek Djenar Maesa Ayu yang berjudul ‘Namanya..’. Cerpen tersebut berkisah tentang seorang anak perempuan yang diberi nama Memek oleh orang tuanya.

    Nama itu menjadi bulan-bulanan teman-temannya di sekolah. Ia kemudian sadar kalau namanya tidak seburuk perilaku orang tua atau lingkungannya. Memek hanyalah nama, bukan aktifitas seksual.

    Karena tahu giliran saya presentasi, satu dosen dari tiga dosen mata kuliah yang biasanya hadir, tiba-tiba tidak hadir. Dan dosen itu bergender perempuan dan berjilbab (yang juga menjadi salah satu dosen penguji untuk skripsi saya dan menjadikan skripsi saya sebagai salah satu referensi dari tesisnya). Mungkin dia risih kalau saya mengucapkan nama itu berulang kali. Namun bagusnya, untuk versi skripsi, saya mengenyahkan cerpen ‘Namanya..’ untuk jadi objek penelitian saya. Saya ganti dengan cerpen lain yang ‘serupa’.

    Beberapa orang tentu menilai ini sebagai tindakan yang jarang dilakukan di ruang akademik. Bagusnya dua dosen yang ada di kelas yang keduanya bergender lelaki itu sadar kalau Memek hanyalah nama tokoh. Meski keduanya memberikan kritik yang lumayan tajam kepada saya. Kata mereka penjelasan saya cenderung terdengar subyektif alias tidak berdasar pada teori atau pendapat para feminis. Saya pun mengangguk paham dan sadar akan kekurangan. Namun yang paling mengesalkan adalah ada salah satu teman yang sudah menilai saya minor alias miring.

    Adalah Selly, seorang mahasiswi, berjilbab, dan bergaya wah. Ia datang terlambat lima belas menit lalu ngajogrog diuk di hareupen aing keur ngabacot nerangkeun perencanaan skripsi. Dia tumpang kaki, tangan dilipat, dan pandangannya meremehkan. Saya menebak dia akan menjadi penanya pertama setelah saya ngebacot. Dan sisanya memberi pertanyaan yang lumayan ‘nyeletit’. Ini adalah review yang saya ingat. Bagaimanapun saya punya kelebihan mengingat detil keadaan di masa-masa tertentu –yang pernah saya alami.
    Pe-nanya pertama, perempuan berjilbab, satu angkatan. Menanyakan ‘Apakah Djenar  malah membuat citra perempuan menjadi buruk setelah ia membuat cerpen dengan tema-tema semacam itu dan bahasa yang sangat tidak perempuan?’

    Pe-nanya kedua, adalah senior. Menanyakan ‘Taufik Ismail berkata bahwa karya semacam itu (Djenar dan karya penulis perempuan ‘sejenis’) seperti lendir-lendir menjijikkan yang tidak pantas disimak (frasa tepatnya saya lupa, tapi jelasnya Taufik Ismail menilai karya sastra seperti Djenar sebagai tidak layak simak dan ‘busuk’). 

    Dua pertanyaan itu jawab begini. Adanya pendikotomian (perbedaan) bahasa perempuan dan laki-laki sudah menjadi patriarki terselubung yang konyolnya sudah masuk ruang akademisi seperti di sini. Dan pertanyaan itu seolah mengesankan kalau moralitas seseorang (penulis atau bahkan pembaca) diukur dari apa yang ia baca atau apa yang ia tulis (dan atas alasan cerpen adalah fiksi). Saya tidak setuju dengan orang yang membedakan penulis laki-laki dan perempuan. Sebab itu hanya akan membuat kita mencari siapa yang lebih baik. Dan di negeri kita yang terbaik adalah yang santun.  Sudah terlalu lama kesusastraan kita didominasi oleh lelaki. Dan sejak dulu, yang diterima baik adalah kisah-kisah fiksi berlatar sejarah, nasionalisme, humanisme, dan mengenyahkan tema seks. Kenapa? Karena seks sudah lama dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas dituangkan dalam karya sastra. 

    Karya sastra yang menuangkan seks sebagai tema cerita, telah dinilai sebagai karya cabul, tidak pantas, destruktif.  Padahal mereka bahkan tidak akan ada ke dunia ini tanpa hubungan seksual. Tak ada asmara, tak ada keturunan. Karena tahukah kenapa? Karena seks tidak hanya seks. Seks di sini tidak lagi diartikan sebagai hubungan kelamin semata. Tapi aspek kehidupan. Seksualitas, adalah penubuhan, raga, masalah diri. Di sana ada hubungan kausalitas antara diri dan lingkungan, diri dan Tuhan, diri dan orang lain, diri dan diri.

    Jadi itulah yang diceritakan Ayu Utami, Djenar atau penulis perempuan lain. Seksualitas adalah aspek kehidupan. Yang jadi ‘masalah’ barangkali ketika penulis yang sempat dilabeli sastrawangi itu (dan saya geram sekali dengan pelabelan yang menurut saya apa-apaan ini), memiliki gaya bahasa yang frontal, vulgar, jelas, gamblang. Padahal..

    Taruhlah kita membuat cerpen dengan setting pesantren. Otomatis akan ada banyak dialog yang islami. Dan itupun kalau penulis datang dari genre Islami seperti Asma Nadya atau Helvy Triana Rosa. Tapi bagaimana kalau itu ditulis oleh penulis lain. Saya yang bukan siapa-siapa ini pernah menulis cerpen berjusul Nyempet/Mairil, kisah tentang praktek homoseksual di pesantren. Dan menyoal bahasa, tentu harus realistis dengan tokoh ‘sebenarnya’. Jadi di beberapa titik, ‘tak ada’ dialog yang Islami. Karena dalam sekuen-nya (scene) ada obrolan vulgar antarsantri. Karena karya sastra (cerpen) adalah tuturan mengenai realitas. Itu seperti sebuah film. Dan beresensi. Jadi adalah ‘tolol’ jika ada yang mengatakan kalau karya semacam Ayu atau Djenar sebagai usaha penulis untuk membangkitkan libido pembaca.

    Dan  kalimat terakhir paragraf di atas itu yang ingin saya sampaikan pada Selly. Tapi saya tahu itu akan sangat kasar dan lagi pula waktu tidak memungkinkan (yang presentasi tidak hanya saya. Tapi ada empat orang di muka kelas). Dan sebelumnya dia bertanya. Dan dari pertanyaannya saya tahu dia Cuma asal tanya karena nggak ngikutin presentasi saya dari awal (wong telah 15 menit).

    Dengan gayanya (maklum, mahasiswi yang masuk kelompok sastra terkenal di kampus)), ia bilang. “Saya nggak setuju dengan apa yang Anda katakan dengan ‘ini hanya karya sastra’. Lagian menurut saya karyanya (karya Djenar) memang sangat vulgar dan saya pun malas membacanya..”

    Tentu saja saya tidak hapal betul kosakatanya. Tapi benang merahnya begitu. Pokoknya tahulah, arahnya akan kemana. Saya pun bilang. ‘Kalau ada yang tidak suka dengan karya tertentu, itu hanya persoalan selera. Tapi kalau cerpen ini sudah dijadikan obyek penelitian, maka itu sudah menjadi kesepakatan bersama. Dalam artian, mau nggak mau harus dikaji dan dipelajari bersama. Ini kan juga forum. Apa yang saya katakan dengan ‘ini hanya karya sastra’, mungkin harus diingat lagi oleh Selly apa yang saya katakan sebelumnya. Sebab saya Cuma mau menyinggung, lihat realitasnya. Apakah di luar sana orang-orang memiliki dialog yang semuanya santun? Yang tidak pernah mengutarakan obrolan nakal? Obrolan seks? Jadi yang bisa saya bilang cerpen adalah mimesis, cerminan dari kehidupan.”

    Ya, Tuhan. Saya nggak percaya. Masak dia yang masuk ASAS (kelompok sastra di UPI yang terkenal) ‘bisa-bisanya nanya kek begitu. Saya jawab aja pake teori yang udah saya telen dari semester satu. Kalau karya sastra itu mimesis. Sayangnya saya tidak mendapat pembelaan dari kedua dosen yang laki-laki itu. Mereka bukan feminis. Dan disiplin ilmu feminisme memang masih sangat baru saat itu. Kalaulah Bu Neta, salah satu dosen yang nggak hadir itu ada di situ saat itu, mungkin ia akan bersetuju dengan saya.

    Perkara Vulgarisme Samandayu

    Pada dasarnya saya tipe orang yang ‘emoh’ ikutin aturan orang atau sekelompok orang dominan. Makanya suka nggak cocok kalau masuk UKM (kegiatan kemahasiswaan) ini dan itu. Soalnya bawaannya kritis. Dan saya termasuk orang yang susah ngungkapin kekritisan saya (saya pendiam dan kurang berani ngebacot). Makanya menulis adalah media paling ampuh untuk meluberkan kegelisahan saya. Dan selain opini, yang saya tulis adalah cerpen.

    Ada yang menggelitik ketika saya nanya sesuatu di grup saya, Sekte Saman. Beberapa orang mengaku risih dengan konten saya yang dinilai vulgar (KBBI = kasar, tidak sopan), namun di pertanyaan yang lain mereka tidak sudi untuk menyingkirkan ‘kekhasan’ saya yang bervulgar-vulgar ria. 



    Padahal..

    Saya tidak vulgar. Saya merasa biasa saja. Mungkin karena saya lain dan jalur saya berbeda, orang-orang nyangkanya saya ini kelewat ‘sekular bin sesat’. Padahal seperti yang saya jelaskan di atas, untuk menggambarkan perkosaan atau pembunuhan, tentu saja ada dialog-dialog yang saya buat relevan dengan kenyataan. Contohnya: “anjing, luh”. “Taik!” dan sebagainya.

    Lalu, ini mungkin menjadi pertanyaan kalian. Kenapa sih, cerpennya seks dan kekerasan melulu. Serem tauk! Sebab saya sudah menulis banyak tema horor dan Islami saat saya SMA. Dan pas kuliah tema-tema seperti itu ditinggalkan. Alhasil lebih banyak tema-tema humanisme (kalau boleh saya bilang begitu). Sebab saya (dan penulis lain tentunya) akan selalu membawa misi pada setiap tulisannya. Tidak bisa tidak. Soal misinya apa, biar pembaca saya yang menemukannya sendiri.



    16 Komentar

    Andreas Erick mengatakan...

    Masalah penggunaan bahasa, tidak semua mempunyai latar belakang 'pikiran terbuka', tapi karena pendidikan sex yg kurang.... maka istilah2 kedokteran pun dianggap tabu....

    bagaimana dengan 'ketabuan' anak2 SMA/ SMP yg sudah 'mencicipi' persetubuhan di luar batas sebagai seorang pelajar??

    ckckck

    ironis sekali....

    Bagus untuk tulisanmu, wan...

    semoga mencerahkan...

    ^_^

    saman mengatakan...

    makasih atas pertamaxnya om andreas :*

    djenar maesa ayu memang blak2an mas saman kalo nulis. itu udah terkenal malah. hehhehe... tapi gw setuju sama opini lo yang bilang kalo aktivitas seksual ga bisa dipisahka. yah emang karna aktivitas seksuallah manusia ada di dunia. :)

    saman mengatakan...

    Nue: thanks yah hehe

    saman mengatakan...

    pina: makasi mama pina. tp saya g btanggung jawab atas moral anak2 pengguna fb. mereka bahkan bisa mndpatkan yg lebih 'parah' karena penggunaan internet yg tidak diawasi ortu ^^
    stevanus: benar sekalo stevan. komentarnya kritis banget ^^

    gita shofie mengatakan...

    bacaan itu menginspirasi,wan.karena saya rajin baca sastra islami mangkanya lama-lama saya terpengaruh juga supaya berjilbab,belajar perbaikan akhlak,etc.entahlah kalo bacaan wajib saya novel danielle steelle,maybe saya bakal terpengaruh juga pergaulan bebas ala barat.masalah karya sastrawangi bukannya saya ga pernah baca,pernah tapi cuma karya djenar jadi saya ga bisa objektif disini,tapi bagi saya karya sastra semacam itu hanya sekedar buat dibaca.kalo seringnya baca2 karya semacam itu saya khawatir terlalu mempengaruhi hidup saya,nanti malah jadi terbiasa ngomong kasar dan semacamnya.well i've a baby,ga lucu aja saya ngomong kasar n vulgar di depan bayi saya karena terinspirasi baca sastrawangi.walaupun banyak juga hal positif dalam karyanya.tapi yang menonjol ya...seksnya.
    tulisan itu punya kekuatan,conthnya banyak orang yang terinspirasi laskar pelangi.saya sendiri kadang suka juga baca horor tapi ya sekedar bacaan,kalo terlalu hobi malah bikin parno.
    intinya,bagi saya seks itu dibicarakan lebih nyaman secara individu aja(sama suami),ataaau...di buku adabuz zifaf.ahaha...
    masalah selera aja sih.
    ngomong-ngomong,ga semua tulisanmu vulgarlah,banyak juga ko yang menginspirasi positif,tergantung orang yang bacanya aja.

    Alvi Syahrin mengatakan...

    Aku belum pernah baca karyanya Djenar...
    Tapi sering denger kalo tulisannya blak-blakan, vulgar...

    Aku sih termasuk pembaca baru di blognya Mas Saman..
    Sejauh pengamatanku..., dibilang vulgar, nggak juga sih.. cuma kontentnya emang dewasa... :D

    Aku suka gaya nulisnya. :)

    saman mengatakan...

    gita: iya intinya memang harus bijak dalam memilih buku dan bijak pula dalam memahami konten dari karya sastra tersebut. karya djenar memang kebanyakan tentang seks dan saya pun makin ke sini makin mual. sementara ayu utami memiliki wawasan dan kreatifitas yang menurut saya jauh lebih baik. ayu benar-benar menulis tentang kehidupan. novel saman juga sebenarnya kritik terhadap orde baru. novelnya bilangan fu pun tentng kritik terhadap dunia magis. dan cerpen-cerpen saya pun nggak semuanya vulgar kok. namanya juga kreatifitas. ^^

    alvi: makasih sudah komen, salam kenal kmbali heuheu

    Ricky Wijaya mengatakan...

    emang sih terkadang ada kata-kata vulgarnya tapi sejauh ini sih nggak begitu mengganggu .. lgian kalo vulgar2 dikit ya gak papa lah.. ahaha..

    Ami Sz mengatakan...

    buat saya gak ada vulgarisme, yang ada hanya benar dan salah *panjang klo dijelasin*

    Crisan D mengatakan...

    Mungkin asumsi orang-orang kebanyakan yang masih mengkategorikan "katakata" bertema seperti itu sebagai kata yang tidak patut, padahal menurut saya asal dalam konteks yang tepat. Soalnya tema-tema seperti ini masih menjadi tabu.

    ferdian mengatakan...

    gaya bahasa vulgar.. so what.. balik ke individu masing2 se.. cuma harus sesuai forum klo kata gw.. klo di fb wall se kata gw jangan.. fb ga semuanya orang dewasa yang mampu mencerna dengan baik.. banyak anak2 kecil yang akhirnya jd ikut2an itu aja se ^^ tp klo gw pribadi ga masalah sama sekali hahah malah lucu aja
    dalam kehidupan sehari2 kita sering ngeledek orang.. ga mungkin kita ngeledek kek begini
    "alat kelamin laki laki lo" lebih enak ngomong "kontol lo" hahaha atau "vagina lo" ga mungkin banget.. lebih enak "meki lo kribo" yah kek gitu de
    jgn dengarkan kata2 gw di atas

    Dea mengatakan...

    ‎2 thumbs up.
    Tampaknya saya 'ngeh' dengan beberapa nama dan tempat di artikelnya (heuheuheu)
    Menurut saya pribadi, karya Djenar atau Ayu Utami masih dalam konteks kesastraan. Dan namanya penulis terkadang ga nuntut pembaca untuk mengerti dia. Tapi tulisan adalah media jiwa (saya menyebutnya gitu). Pertama kali menyentuh karya mereka pas kelas 1 SMA, tp pure saya melihat sebagai bentuk sastra yg kadang simbolik. Ga ada pikiran nyeleneh (beda kalau nonton filmnya sasha grey :D). Memang hak orang untuk ga baca sebuah buku, contoh: walau saya suka Marga T,tapi tidak semua novelnya saya suka.. Kembali lg pada pola pikir dan selera masing2

    nick mengatakan...

    bagus deh...tulisannya maksudnya,
    kamu anak jurusan sastra ya?

    Just Nanda... mengatakan...

    Hahahahaha, pendapat om saman oke, cerpen ya cuma cerpen, gak perlu ngebedain genre, toh yang harus kita hargai nanti adalah tulisannya, dan satu hal lagi, gaya bahasa dan penulisan dari masing-masing penulis tentunya beda, dan itu lah yang biasa kita sebut dengan ke-khas-an bukan?? kalo salah tolong di koreksi om... maklum, gak punya bakat dibidang sastra niiih...

    saman mengatakan...

    semua: makasih sudah menanggapi ^_^

  • Copyright © - Nisekoi - All Right Reserved

    SMNDY Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan